Mereka Memilih Menjadi Patung

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak. Continue reading “Mereka Memilih Menjadi Patung”

Advertisements

Mengukur Keberadaan Penjara Anak

penjara anak
sumber: Harian Nasional

KASUS kecelakaan yang dialami AQJ alias Dul (13), anak bungsu musisi Ahmad Dhani menggulirkan berbagai perspektif hukum. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpandangan bahwa kasus Dul lebih baik tidak diproses ke pengadilan.

Kalau pun dihukum, Dul tak perlu dipenjara lebih baik ditempatkan di panti rehabilitasi. KPAI mempertimbangkan aspek psikologis tumbuh kembang anak ke depan. Bahkan, KPAI berwacana lebih baik keberadaan penjara anak dibubarkan.

Wacana itu mengundang banyak pertanyaan, mengapa KPAI baru kali ini berbicara pembubaran penjara anak? Ketika kasus pidana anak-anak lainnya, yang bukan anak seorang tokoh terkenal atau selebritas, KPAI tak begitu berbicara banyak ke media.

Anggota KPAI Asrorun Ni’am Sholeh menolak bila wacana itu disampaikan berbarengan dengan kasus AQJ. “Jauh-jauh hari sudah disampaikan, termasuk perubahan dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak (UU Nomor 11/2012),” ujar Asrorun, Senin (16/9) di Jakarta. Continue reading “Mengukur Keberadaan Penjara Anak”

Remaja Merokok, Siapa yang Berperan?

sumber: Harian Nasional

PEROKOK remaja (10-15 tahun) tumbuh dua kali lipat lebih dalam jarak 10 tahun. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 1995 menunjukkan jumlah mereka sekitar 7 persen, sedangkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 20010 sekitar 17,5 persen.

Dari data itu, remaja laki-laki pada naik dari 14 persen menjadi 37 persen, sedangkan para perempuan 0,3 persen meningkat menjadi 1,6 persen. Kondisi ini memprihatinkan, karena generasi ini bakal terbebani masalah kesehatan di masa depan.

Tim Advokasi Komunitas Kretek, Daru Supriyono berpandangan bahwa perokok remaja makin banyak disebabkan kontrol dari orangtua sangat kurang. Menurut dia, sebelum menyerahkan tanggungjawab anak kepada negara, kontrol dan pengawasan orangtua terhadap anak adalah hal utama. Continue reading “Remaja Merokok, Siapa yang Berperan?”

Faktor Keluarga Bikin Anak ke Jalanan

sumber: http://www.urbancult.net

 HAMPIR seluruh kota besar di Indonesia tumbuh anak-anak jalanan. Banyak faktor yang menyebabkan mereka lebih memilih tinggal di jalanan. Tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Dosen Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Suharma, PhD di Kota Bandung, Jawa Baratcmenunjukkan, anak-anak turun ke jalan karena faktor dorongan orangtua.

“Untuk anak berumur di bawah 5 tahun, faktor orangtua yang paling dominan,” ujar Suharma kepada saya di Grand Sahid, Jakarta, Rabu (11/9) dalam acara “Konferensi tentang Kemiskinan Anak dan Perlindungan Sosial”.

Hal itu dikarenakan, kata dia, orangtua selalu mengarahkan atau mendoktrin bahwa tugas seorang anak adalah membantu orangtua. Ini dilakukan demi mencari pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, termasuk untuk biaya sekolah. Continue reading “Faktor Keluarga Bikin Anak ke Jalanan”

Jalan Soeharto

foto: andisn

MEMANG, “Apalah arti sebuah nama,” kata Sastrawan Inggris William Shakespeare. Tetapi, nama terkadang memiliki imej sosial tertentu bagi sebagian masyarakat.

Itulah yang terjadi hari-hari ini. Akhir pekan lalu, nama Soeharto mengemuka kembali. Ketika tim Panitia 17 mengusulkan agar nama Soeharto menjadi nama sebuah jalan, menggantikan Jalan Medan Merdeka Barat.

Tentu masing ingat bagaimana pertentangan lima tahun silam, ketika Presiden RI kedua itu dicalonkan sebagai pahlawan nasional. Sebagian kalangan menilai Soeharto tak pantas mendapatkan gelar itu, karena kekuasaan otoriternya selama 32 tahun. Namanya pun tak lolos dari daftar calon. Sosok berjuluk “The Smiling General” memang penuh kontroversial. Seolah-olah dirinya tak memiliki sisi baik, sehingga seluruh hidupnya dianggap aib bagi bangsa ini. Continue reading “Jalan Soeharto”

“Saya Seperti From Hero to Zero

sumber: okezone.com

IRJEN Pol Djoko Susilo mengatakan, dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai sebuah ketidakadilan. Tiga puluh menit sidang berjalan, Djoko sempat tercekat tak mampu melanjutkan nota pembelaannya (pleidoi).

Tapi ia tahan agar tangisnya tak tumpah, lalu melanjutkan kembali dengan suara agak gemetar. Kepada hakim, ia membantah telah mengatur tender dan melakukan mark-up harga, serta menerima uang sebesar Rp 2 miliar.

Ia menilai tingginya tuntutan juga membuat keluarganya terbebani. “Saya benar-benar merasa dijatuhkan dari tempat tinggi ke jurang yang sangat dalam. Kondisi saya seperti ‘from hero to zero’. Karir yang dirintis puluhan tahun, hancur seketika,” katanya di Pengadilan Tipikor, pada 27 Agustus 2013.

Djoko mengatakan, kejadian yang menimpanya adalah kehendak Allah SWT. Ia tak menduga akan mengalami kejadian seperti saat ini. “Saya dituduh (korupsi dan pencucian uang). Saya ikhlas dan memaafkan yang telah mendzalami saya. Astagfirullah, ampuni yang dzalim terhadap saya, ya Allah,” katanya. Continue reading ““Saya Seperti From Hero to Zero“”

Menjemput Asa Industri Dirgantara

sumber: http://www.dreamstime.com

INDUSTRI dirgantaraIndonesia pernah berjaya di era 1990-an. Ketika itu PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini – PT Dirgantara Indonesia/PT DI) memproduksi pesawat yang populer dengan nama N-250 atau Gatotkaca. Selain itu, ada pula produk pesawat CN-235, helikopter, dan lainnya.

Sejak itu produk-produk IPTN banyak dibeli oleh sejumlah negara seperti Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dan Filipina.

Namun, krisis moneter pada 1998 menenggelamkan laju roda industri. Belum lagi, terseok-seok masalah internal hingga dipailitkan oleh karyawannya sendiri. Meski akhirnya pada 2007, pengadilan mencabut keputusan pailit itu.

Pada 2012, industri PT DI mulai menggeliat dengan memproduksi sejumlah pesawat. Terakhir, Korea Selatan memesan pesawat CN-235 Korea Coast Guard (KCG). Korea Selatan merupakan pasar potensial PT DI, yang sampai kini telah mengoperasikan delapan unit CN235, enam unit versi military transport dan dua unit versi VIP/VVIP. Continue reading “Menjemput Asa Industri Dirgantara”